Skip to content

Pembahasan Kitab Ushul Ibnu Qoyyim Az-zauji

Juli 7, 2011

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Syari’at Islam bagaikan berlian yang jika terlihat dari arah berbeda maka akan memperlihatkan warna yang berbeda, dikarenakan hal demikian hukum islam ini bersifat kondisional dalam segala aspek kehidupan tergantung situasi itu berkata. Banyak sekali aspek yang menjadikan hal tersebut menjadi sebuah perbedaan yang mencolok antara satu sama lain, sehingga islam terlihat seperti terpecah belah dan memang seperti itulah kenyataannya.

Mengingat hal demikian bukanlah sebuah hal yang tabu untuk diketahui melainkan sudah menjadi suatu realita yang dihadapi sesama muslim, maka dari itu penulis ingin memperkenalkan sebuah madzhab yang cukup terkemuka diantara madzab yang lainnya yaitu “Imam Ahmad bin Hanbal” seorang tokoh yang banyak sekali memberikan peran dalam dunia Islam dalam pengembangan syari’at islam yang disandarkan kearah perkembangan zaman sekarang.

Selain daripada itu penulis juga akan memaparkan beberapa kajian kitab ushul fiqih yang disusun oleh Ibnu Qayyim Az-zauji yang mengembangkan keilmuan ushul fiqih imam Ahmad bin Hanbal dalam pengembangannya dalam syari’at Islam kitab induk Ushul fiqih yang akan dibahas oleh penulis disini adalah “’Ilaamul Muwaqi’iin”.

Walaupun dalam penulisan ini terdapat banyak sekali kekurangan, namun penulis berharap bahwa tulisan ini dapat memenuhi standar tugas yang diemban dalam tugas perkuliahan.

 

  1. Rumusan Masalah

Dengan melihat Latar Belakang Masalah diatas, maka dapat dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana Biografi Ibnu Qoyyim Az-zauji ?
  2. Bagaimana Metode Istinbath Ibnu Qoyyim Az-zauji?
  3. Apa prestasi atau karya yang dicapai oleh Ibnu Qoyyim Az-zauji?
  4. Bagaimana system penulisan kitab Ushul fiqih “’Ilaamul Muwaqi’iin” ?
  5. Apa saja yang dibahas seputar kitab Ushul “’Ilaamul Muwaqi’iin” ?

 

  1. Tujuan Masalah

Dengan melihat Rumusan Masalah diatas, maka dapat disimpulkan Tujuan Masalah sebagai berikut :

  1. Mengetahui Biografi Ibnu Qoyyim Az-zauji.
  2. Mengetahui Metode Istinbath Ibnu Qoyyim Az-zauji.
  3. Mengetahui prestasi atau karya yang dicapai oleh Ibnu Qoyyim Az-zauji.
  4. Mengetahui system penulisan kitab Ushul fiqih “’Ilaamul Muwaqi’iin”.
  5. Mengetahui apa saja yang dibahas seputar kitab Ushul “’Ilaamul Muwaqi’iin”.

 

  1. Tinjauan Pustaka

Dalam tinjauan pustaka yang penulis ambil salah satunya adalah dari kitab Website Wikipedia berbasis bahasa Indonesia dalam menemukan beberapa kajian tentang Imam Ahmad bin Hanbal, seperti Biografi, dan karya-karyanya. Disamping itu penulis juga mengambil referensi dari beberapa Blog yang dapat membantu penulis dalam penyusunan makalah ini.

Kajian Langsung dari buku yang berbentuk PDF yang berjudul “PANDUAN HUKUM ISLA: I’LAMUL MAWAQI’IIN”, kitab ini penulis tijau dari bentuk yang sudah diterjemahkan dalam bentuk bahsa Indonesia dan bentuk yang masih real dalam bahasa Arab dalam Al-Maktabah Syamilah.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Biografi Imam Ahmad bin Hanbal

Ahmad bin Hanbal (781 – 855 M, 164 – 241 AH) (Arab أحمد بن حنبل‏‏ ) adalah seorang ahli hadits dan teologi Islam. Ia lahir di Marw (saat ini bernama Mary di Turkmenistan, utara Afganistan dan utara Iran) di kota Baghdad, Irak. Kunyah beliau Abu Abdillah lengkapnya: Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad Al Marwazi Al Baghdadi/ Ahmad bin Muhammad bin Hanbal dikenal juga sebagai Imam Hambali.

Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal Asy Syaibani. Beliau lahir di kota Baghdad pada bulan rabi’ul Awwal tahun 164 H (780 M), pada masa Khalifah Muhammad al Mahdi dari Bani abbasiyyah ke III. Nasab beliau yaitu Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asas bin Idris bin Abdullah bin Hajyan bin Abdullah bin Anas bin Auf bin Qasith bin Mazin bin Syaiban bin Dzahal Tsa’labah bin akabah bin Sha’ab bin Ali bin bakar bin Muhammad bin Wail bin Qasith bin Afshy bin Damy bin Jadlah bin Asad bin Rabi’ah bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan. Jadi beliau serumpun dengan Nabi karena yang menurunkan Nabi adalah Muzhar bin Nizar.Menurut sejarah beliau lebih dikenal dengan Ibnu Hanbal (nisbah bagi kakeknya). Dan setelah mempunyai beberapa orang putra yang diantaranya bernama Abdullah, beliau lebih sering dipanggil Abu Abdullah. Akan tetapi, berkenaan dengan madzabnya, maka kaum muslimin lebih menyebutnya sebagai madzab Hanbali dan sama sekali tidak menisbahkannya dengan kunyah tersebut.

Sejak kecil, Imam Ahmad kendati dalam keadaan yatim dan miskin, namun berkat bimbingan ibunya yang shalihah beliau mampu menjadi manusia yang teramat cinta pada ilmu, kebaikan dan kebenaran. Dalam suasana serba kekurangan, tekad beliau dalam menuntut ilmu tidak pernah berkurang. Bahkan sekalipun beliau sudah menjadi imam, pekerjaan menuntut ilmu dan mendatangi guru-guru yang lebih alim tidak pernah berhenti. Melihat hal tersebut, ada orang bertanya, Sampai kapan engkau berhenti dari mencari ilmu, padahal engkau sekarang sudah mencapai kedudukan yang tinggi dan telah pula menjadi imam bagi kaum muslimin ? Maka beliau menjawab, Beserta tinta sampai liang lahat.

Beliau menuntut ilmu dari banyak guru yang terkenal dan ahli di bidangnya. Misalnya dari kalangan ahli hadits adalah Yahya bin Sa’id al Qathan, Abdurrahman bin Mahdi, Yazid bin Harun, sufyan bin Uyainah dan Abu Dawud ath Thayalisi. Dari kalangan ahli fiqh adalah Waki’ bin Jarah, Muhammad bin Idris asy Syafi’i dan Abu Yusuf (sahabat Abu Hanifah ) dll. dalam ilmu hadits, beliau mampu menghafal sejuta hadits bersama sanad dan hal ikhwal perawinya.

Meskipun Imam Ahmad seorang yang kekurangan, namun beliau sangat memelihara kehormatan dirinya. Bahkan dalam keadaan tersebut, beliau senantiasa berusaha menolong dan tangannya selalu di atas. Beliau tidak pernah gusar hatinya untuk mendermakan sesuatu yang dimiliki satu-satunya pada hari itu. Disamping itu, beliau terkenal sebagai seorang yang zuhud dn wara”. Bersih hatinya dari segala macam pengaruh kebendaan serta menyibukkan diri dengan dzikir dan membaca Al Qur’an atau menghabiskn seluruh usianya untuk membersihkan agama dan mengikisnya dari kotoran-kotoran bid’ah dan pikiran-pikiran yang sesat.

Salah satu karya besar beliau adalah Al Musnad yang memuat empat puluh ribu hadits. Disamping beliau mengatakannya sebagai kumpulan hadits-hadits shahih dan layak dijadikan hujjah, karya tersebut juga mendapat pengakuan yang hebat dari para ahli hadits. Selain al Musnad karya beliau yang lain adalah : Tafsir al Qur’an, An Nasikh wa al Mansukh, Al Muqaddam wa Al Muakhar fi al Qur’an, Jawabat al Qur’an, At Tarih, Al Manasik Al Kabir, Al Manasik Ash Shaghir, Tha’atu Rasul, Al ‘Ilal, Al Wara’ dan Ash Shalah.

Ujian dan tantangan yang dihadapi Imam Ahmad adalah hempasan badai filsafat atau paham-paham Mu”tazilah yang sudah merasuk di kalangan penguasa, tepatnya di masa al Makmun dengan idenya atas kemakhlukan al Qur’an. Sekalipun Imam Ahmad sadar akan bahaya yang segera menimpanya, namun beliau tetap gigih mempertahankan pendirian dan mematahkan hujjah kaum Mu’tazilah serta mengingatkan akan bahaya filsafat terhadap kemurnian agama. Beliau berkata tegas pada sultan bahwa al Qur’an bukanlah makhluk, sehingga beliau diseret ke penjara. Beliau berada di penjara selama tiga periode kekhlifahan yaitu al Makmun, al Mu’tashim dan terakhir al Watsiq. Setelah al Watsiq tiada, diganti oleh al Mutawakkil yang arif dan bijaksana dan Imam Ahmad pun dibebaskan.

Imam Ahmad  lama mendekam dalam penjara dan dikucilkan dari masyarakat, namun berkat keteguhan dan kesabarannya selain mendapat penghargaan dari sultan juga memperoleh keharuman atas namanya. Ajarannya makin banyak diikuti orang dan madzabnya tersebar di seputar Irak dan Syam. Tidak lama kemudian beliau meninggal karena rasa sakit dan luka yang dibawanya dari penjara semakin parah dan memburuk. Beliau wafat pada 12 Rabi’ul Awwal 241 H (855). Pada hari itu tidak kurang dari 130.000 Muslimin yang hendak menshalatkannya dan 10.000 orang Yahudi dan Nashrani yang masuk Islam. Menurut sejarah belum pernah terjadi jenazah dishalatkan orang sebanyak itu kecuali Ibnu Taimiyah dan Ahmad bin Hanbal. Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat atas keduanya. Amin

 

  1. Awal mula Menuntut Ilmu

Ilmu yang pertama kali dikuasai adalah Al Qur’an hingga beliau hafal pada usia 15 tahun, beliau juga mahir baca-tulis dengan sempurna hingga dikenal sebagai orang yang terindah tulisannya. Lalu beliau mulai konsentrasi belajar ilmu hadits di awal umur 15 tahun itu pula. Beliau telah mempelajari Hadits sejak kecil dan untuk mempelajari Hadits ini beliau pernah pindah atau merantau ke Syam (Syiria), Hijaz, Yaman dan negara-negara lainnya sehingga beliau akhirnya menjadi tokoh ulama yang bertakwa, saleh, dan zuhud. Abu Zur’ah mengatakan bahwa kitabnya yang sebanyak 12 buah sudah belau hafal di luar kepala. Belaiu menghafal sampai sejuta hadits. Imam Syafi’i mengatakan tetang diri Imam Ahmad sebagai berikut :

Setelah saya keluar dari Baghdad, tidak ada orang yang saya tinggalkan di sana yang lebih terpuji, lebih shaleh dan yang lebih berilmu daripada Ahmad bin Hambal

Abdur Rozzaq Bin Hammam yang juga salah seorang guru beliau pernah berkata,

Saya tidak pernah melihat orang se-faqih dan se-wara’ Ahmad Bin Hanbal[2]

  1. Keadaan fisik beliau

Muhammad bin ‘Abbas An-Nahwi bercerita, Saya pernah melihat Imam Ahmad bin Hambal, ternyata Badan beliau tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek, wajahnya tampan, di jenggotnya masih ada yang hitam. Ia senang berpakaian tebal, berwarna putih dan bersorban serta memakai kain. Yang lain mengatakan, “Kulitnya berwarna coklat (sawo matang)”

  1. Keluarga beliau

Beliau menikah pada umur 40 tahun dan mendapatkan keberkahan yang melimpah. Ia melahirkan dari istri-istrinya anak-anak yang shalih, yang mewarisi ilmunya, seperti Abdullah dan Shalih. Bahkan keduanya sangat banyak meriwayatkan ilmu dari bapaknya.

 

  1. Kecerdasan beliau

Putranya yang bernama Shalih mengatakan, Ayahku pernah bercerita, “Husyaim meninggal dunia saat saya berusia dua puluh tahun, kala itu saya telah hafal apa yang kudengar darinya”. Abdullah, putranya yang lain mengatakan, Ayahku pernah menyuruhku, “Ambillah kitab mushannaf Waki’ mana saja yang kamu kehendaki, lalu tanyakanlah yang kamu mau tentang matan nanti kuberitahu sanadnya, atau sebaliknya, kamu tanya tentang sanadnya nanti kuberitahu matannya”.

Abu Zur’ah pernah ditanya, “Wahai Abu Zur’ah, siapakah yang lebih kuat hafalannya? Anda atau Imam Ahmad bin Hambal?” Beliau menjawab, “Ahmad”. Ia masih ditanya, “Bagaimana Anda tahu?” beliau menjawab, “Saya mendapati di bagian depan kitabnya tidak tercantum nama-nama perawi, karena beliau hafal nama-nama perawi tersebut, sedangkan saya tidak mampu melakukannya”. Abu Zur’ah mengatakan, “Imam Ahmad bin Hambal hafal satu juta hadits”.

  1. Pujian Ulama terhadap beliau

Abu Ja’far mengatakan, “Ahmad bin Hambal manusia yang sangat pemalu, sangat mulia dan sangat baik pergaulannya serta adabnya, banyak berfikir, tidak terdengar darinya kecuali mudzakarah hadits dan menyebut orang-orang shalih dengan penuh hormat dan tenang serta dengan ungkapan yang indah. Bila berjumpa dengan manusia, maka ia sangat ceria dan menghadapkan wajahnya kepadanya. Ia sangat rendah hati terhadap guru-gurunya serta menghormatinya”. Imam Asy-Syafi’i berkata, “Ahmad bin Hambal imam dalam delapan hal, Imam dalam hadits, Imam dalam Fiqih, Imam dalam bahasa, Imam dalam Al Qur’an, Imam dalam kefaqiran, Imam dalam kezuhudan, Imam dalam wara’ dan Imam dalam Sunnah”. Ibrahim Al Harbi memujinya, “Saya melihat Abu Abdillah Ahmad bin Hambal seolah Allah gabungkan padanya ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang belakangan dari berbagai disiplin ilmu”.

  1. Kezuhudannya

Beliau memakai peci yang dijahit sendiri. Dan kadang beliau keluar ke tempat kerja membawa kampak untuk bekerja dengan tangannya. Kadang juga beliau pergi ke warung membeli seikat kayu bakar dan barang lainnya lalu membawa dengan tangannya sendiri. Al Maimuni pernah berujar, “Rumah Abu Abdillah Ahmad bin Hambal sempit dan kecil”.

  1. Wara’ dan menjaga harga diri

Abu Isma’il At-Tirmidzi mengatakan, “Datang seorang lelaki membawa uang sebanyak sepuluh ribu (dirham) untuk beliau, namun beliau menolaknya”. Ada juga yang mengatakan, “Ada seseorang memberikan lima ratus dinar kepada Imam Ahmad namun beliau tidak mau menerimanya”. Juga pernah ada yang memberi tiga ribu dinar, namun beliau juga tidak mau menerimanya.

  1. Tawadhu’ dengan kebaikannya

Yahya bin Ma’in berkata, “Saya tidak pernah melihat orang yang seperti Imam Ahmad bin Hambal, saya berteman dengannya selama lima puluh tahun dan tidak pernah menjumpai dia membanggakan sedikitpun kebaikan yang ada padanya kepada kami”. Beliau (Imam Ahmad) mengatakan, “Saya ingin bersembunyi di lembah Makkah hingga saya tidak dikenal, saya diuji dengan popularitas”. Al Marrudzi berkata, “Saya belum pernah melihat orang fakir di suatu majlis yang lebih mulia kecuali di majlis Imam Ahmad, beliau perhatian terhadap orang fakir dan agak kurang perhatiannya terhadap ahli dunia (orang kaya), beliau bijak dan tidak tergesa-gesa terhadap orang fakir. Ia sangat rendah hati, begitu tinggi ketenangannya dan sangat memuka kharismanya”. Beliau pernah bermuka masam karena ada seseorang yang memujinya dengan mengatakan, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas jasamu kepada Islam?” beliau mengatakan, “Jangan begitu tetapi katakanlah, semoga Allah membalas kebaikan terhadap Islam atas jasanya kepadaku, siapa saya dan apa (jasa) saya?!”

  1. Sabar dalam menuntut ilmu

Tatkala beliau pulang dari tempat Abdurrazzaq yang berada di Yaman, ada seseorang yang melihatnya di Makkah dalam keadaan sangat letih dan capai. Lalu ia mengajak bicara, maka Imam Ahmad mengatakan, “Ini lebih ringan dibandingkan faidah yang saya dapatkan dari Abdirrazzak”.

  1. Hati-hati dalam berfatwa

Zakariya bin Yahya pernah bertanya kepada beliau, “Berapa hadits yang harus dikuasai oleh seseorang hingga bisa menjadi mufti? Apakah cukup seratus ribu hadits? Beliau menjawab, “Tidak cukup”. Hingga akhirnya ia berkata, “Apakah cukup lima ratus ribu hadits?” beliau menjawab. “Saya harap demikian”.

  1. Kelurusan aqidahnya sebagai standar kebenaran

Ahmad bin Ibrahim Ad-Dauruqi mengatakan, “Siapa saja yang kamu ketahui mencela Imam Ahmad maka ragukanlah agamanya”. Sufyan bin Waki’ juga berkata, “Ahmad di sisi kami adalah cobaan, barangsiapa mencela beliau maka dia adalah orang fasik”.

  1. Masa Fitnah

Pemahaman Jahmiyyah belum berani terang-terangan pada masa khilafah Al Mahdi, Ar-Rasyid dan Al Amin, bahkan Ar-Rasyid pernah mengancam akan membunuh Bisyr bin Ghiyats Al Marisi yang mengatakan bahwa Al Qur’an adalah makhluq. Namun dia terus bersembunyi di masa khilafah Ar-Rasyid, baru setelah beliau wafat, dia menampakkan kebid’ahannya dan menyeru manusia kepada kesesatan ini.

Di masa khilafah Al Ma’mun, orang-orang jahmiyyah berhasil menjadikan paham jahmiyyah sebagai ajaran resmi negara, di antara ajarannya adalah menyatakan bahwa Al Qur’an makhluk. Lalu penguasa pun memaksa seluruh rakyatnya untuk mengatakan bahwa Al Qur’an makhluk, terutama para ulamanya. Barangsiapa mau menuruti dan tunduk kepada ajaran ini, maka dia selamat dari siksaan dan penderitaan. Bagi yang menolak dan bersikukuh dengan mengatakan bahwa Al Qur’an Kalamullah bukan makhluk maka dia akan mencicipi cambukan dan pukulan serta kurungan penjara.

Karena beratnya siksaan dan parahnya penderitaan banyak ulama yang tidak kuat menahannya yang akhirnya mengucapkan apa yang dituntut oleh penguasa zhalim meski cuma dalam lisan saja. Banyak yang membisiki Imam Ahmad bin Hambal untuk menyembunyikan keyakinannya agar selamat dari segala siksaan dan penderitaan, namun beliau menjawab, “Bagaimana kalian menyikapi hadits “Sesungguhnya orang-orang sebelum Khabbab, yaitu sabda Nabi Muhammad ada yang digergaji kepalanya namun tidak membuatnya berpaling dari agamanya”. HR. Bukhari 12/281. lalu beliau menegaskan, “Saya tidak peduli dengan kurungan penjara, penjara dan rumahku sama saja”.

Ketegaran dan ketabahan beliau dalam menghadapi cobaan yang menderanya digambarkan oleh Ishaq bin Ibrahim, “Saya belum pernah melihat seorang yang masuk ke penguasa lebih tegar dari Imam Ahmad bin Hambal, kami saat itu di mata penguasa hanya seperti lalat”.

Di saat menghadapi terpaan fitnah yang sangat dahsyat dan deraan siksaan yang luar biasa, beliau masih berpikir jernih dan tidak emosi, tetap mengambil pelajaran meski datang dari orang yang lebih rendah ilmunya. Ia mengatakan, “Semenjak terjadinya fitnah saya belum pernah mendengar suatu kalimat yang lebih mengesankan dari kalimat yang diucapkan oleh seorang Arab Badui kepadaku, “Wahai Ahmad, jika anda terbunuh karena kebenaran maka anda mati syahid, dan jika anda selamat maka anda hidup mulia”. Maka hatiku bertambah kuat”.

  1. Guru-guru Beliau

Imam Ahmad bin Hambal berguru kepada banyak ulama, jumlahnya lebih dari dua ratus delapan puluh yang tersebar di berbagai negeri, seperti di Makkah, Kufah, Bashrah, Baghdad, Yaman dan negeri lainnya. Di antara mereka adalah:

  1. Ismail bin Ja’far
  2. Abbad bin Abbad Al-Ataky
  3. (halaman belum tersedia)” href=”http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Husyaim_bin_Basyir_bin_Qasim_bin_Dinar_As-Sulami&action=edit&redlink=1″>Husyaim bin Basyir bin Qasim bin Dinar As-Sulami
  4. Imam Asy-Syafi’i
  5. Waki’ bin Jarrah
  6. Ismail bin Ulayyah
  7. Sufyan bin ‘Uyainah
  8. Abdurrazaq
  9. Ibrahim bin Ma’qil
  1. Murid-murid Beliau

Umumnya ahli hadits pernah belajar kepada imam Ahmad bin Hambal, dan belajar kepadanya juga ulama yang pernah menjadi gurunya, yang paling menonjol adalah:

  1. Muslim
  2. Abu Daud
  3. Nasai
  4. Tirmidzi
  5. Ibnu Majah
  6. Imam Asy-Syafi’i. Imam Ahmad juga pernah berguru kepadanya.
  7. Putranya, http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Shalih_bin_Imam_Ahmad_bin_Hambal&action=edit&redlink=1″>Shalih bin Imam Ahmad bin Hambal
  8. Putranya, http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Abdullah_bin_Imam_Ahmad_bin_Hambal&action=edit&redlink=1″>Abdullah bin Imam Ahmad bin Hambal
  9. Keponakannya, Hambal bin Ishaq
  1. Wafat beliau

Setelah sakit sembilan hari, beliau Rahimahullah menghembuskan nafas terakhirnya di pagi hari Jum’at bertepatan dengan tanggal dua belas Rabi’ul Awwal 241 H pada umur 77 tahun. Jenazah beliau dihadiri delapan ratus ribu pelayat lelaki dan enam puluh ribu pelayat perempuan.

 

  1. Metode Istinbath Imam Ahmad bin Hanbal

Telah mengabarkan kepada kami Syaikh Abu Abdillah Yahya bin Abi Hasan bin Al-Banna, ia berkata:”Ayahku Abu Ali Hasan bin Al Banna mengabarkan kepada kami:”Telah mengabarkan kepada kami Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Abdullah bin Bisyran Al Muadil:”Aku adalah ‘Utsman bin Ahmad bin As Samk :”Telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad Al Hasan bin Abdul wahab Abu Nabri, beliau telah membaca kitabnya pada bulan Rabiul awal Th. 293H. ia berkata:”Telah mengabarkan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin Sulaiman Almuqri Al Bashri Di Tunisia :”Telah mengabarkan kepadaku Abdus bin Malik Al Athar :”Aku mendengar Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal berkata :”Pokok-pokok Sunnah (Islam) disisi kami adalah:

  • Berpegang teguh dengan apa yang dijalani oleh para shahabat serta bertauladan kepada mereka, meninggalkan perbuatan bid’ah, karena setiap bid’ah adalah sesat, serta meninggalkan perdebatan dalam masalah agama
  • Sunnah menafsirkan Al Qur’an dan Sunnah menjadi dalil-dalil (sebagai petunjuk dalam memahami) Al Qur’an, tidak ada qiyas dalam masalah agama, tidak boleh dibuat pemisalan – pemisalan bagi Sunnah, dan tidak boleh dapat dipahami dengan akal dan hawa nafsu, kewajiban kita hanyalah mengikuti Sunnah serta meninggalkan akal dan hawa nafsu.
  • Termasuk Sunnah yang harus diyakini Barangsiapa meninggalkan salah satu dari nya, tidak menerima dan tidak beriman padanya, maka dia tidak termasuk golongan Ahlus Sunnah, adalah:
    • Iman kepada takdir yang baik dan buruk, membenarkan hadits-hadits tentang masalah ini, beriman kepadanya, tidak mengatakan “mengapa?”, dan tidak pula mengatakan :”Bagaimana?”, akan tetapi kita hanya membenarkan dan beriman dengannya. Barangsiapa yang tidak mengetahui penafsiran satu hadits, dan tidak dapat dicapai oleh akalnya sesungguhnya hal tersebut telah cukup dan sempurna atasnya (tidak perlu berdalam-dalam lagi). Maka wajib baginya beriman, tunduk dan patuh dalam menerimanya, seperti hadits ;’As shadiqul masduq “dan hadits-hadits yang seperti ini dalam masalah taqdir, demikian juga semisal hadits – hadits ru’yah (bahwa kaum mukminin akan melihat Allah di sorga), walaupun terasa asing pada pendengaran dan berat bagi yang mendengar, akan tetapi wajib mengimaninya dan tidak boleh menolak satu huruf pun, dan juga hadits-hadits lainnya yang ma’tsur (diriwayatkan) dari orang-orang terpercaya, jangan berdebat dengan seorangpun, tidak boleh pula mempelajari ilmu jidal, karena berbicara tanpa ilmu dalam masalah takdir, ru’yah dan Qur’an dan masalah lainnya yang terdapat dalam Sunnah adalah perbuatan yang dibenci dan dilarang, pelakunya tidak termasuk ahlus Sunnah walaupun perkataannya mencocoki Sunnah sampai dia meninggalkan perdebatan dan mengimani atsar.

 

    • Al Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk, tidak benar hanya mengatakan :”bukan makhluk”. Sesungguhnya kalamullah itu bukanlah sesuatu yang terpisah dari Dzat Allah, dan sesuatu yang berasal dari dzatnya itu bukanlah makhluk. Jauhilah berdebat dengan orang yang hina dalam masalah ini dan dengan orang lafdziyah (Ahlul bid’ah yang mengatakan lafadzku ketika membaca Al Qur’an adalah makhluk) dan lainnya atau dengan orang yang tawaquf (Abstain) dalam masalah ini yang berkata :”Aku tidak tahu Al Qur’an itu makhluk atau bukan makhluk tetapi yang jelas Al Qur’an adalah kalamullah”, orang ini (yang tawaquf ) adalah ahlul bid’ah seperti orang yang mengatakan Al Qur’an adalah makhluk. Ketahuilah (keyakinan ahlus Sunnah adalah) Al Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk.
    • Beriman dengan ru’yah (bahwa kaum mukminin akan melihat Allah) pada hari kiamat sebagaimana diriwayatkan dari Nabi Shalallahu ’alaihi wasallam dalam hadits-hadits yang shahih
    • Nabi Shalallahu ’alaihi wasallam sungguh telah melihat Rabbnya, hal ini telah ma’tsur dari Rasulullah Shalallahu ’alaihi wasallam diriwayatkan oleh Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas dan diriwayatkan oleh Al Hakam bin Iban dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, diriwayatkan pula oleh Ali bin Zaid dari Yusuf bin Mihram dari Ibnu Abbas, dan kita memahami hadits ini sesuai dengan dhahirnya sebagaimana datangnya dari Rasulullah Shalallahu ’alaihiwasallam dan berbicara (tanpa ilmu) dalam hal ini adalah bid’ah, akan tetapi kita wajib beriman dengannya sebagaimana dhahirnya dan kita tidak berdebat dengan seorangpun dalam masalah ini.
    • Beriman dengan mizan (timbangan amal) pada hari kiamat, sebagaimana disebutkan dalam hadits : (yang artinya) ’’Seorang hamba akan ditimbang pada hari kiamat, dan beratnya tidak seberat sayap nyamukpun” dan akan ditimbang amalan para hamba sebagaimana disebutkan dalam atsar, maka wajib bagi kita untuk beriman dan membenarkannya, serta berpaling dari orang-orang yang menentangnya serta (kita harus) meninggalkan perdebatan.
    • Sesungguhnya para hamba akan berbicara dengan Allah pada hari kiamat tanpa adanya penerjemah antara mereka dengan Allah dan kita wajib mengimaninya.
    • Beriman kepada haudh (telaga) yang dimiliki oleh Rasulullah Shalallahu ’alaihi wasallam pada hari kiamat, yang akan didatangi oleh umatnya, luasnya seperti panjangnya yaitu selama perjalanan satu bulan, bejana-bejananya seperti banyaknya bintang-bintang di langit, hal ini sebagaimana diberitakan dalam khabar-khabar yang benar dari banyak jalan.
    • Beriman dengan adanya adzab kubur.
    • Sesungguhnya umat ini akan diuji dan ditanya dalam kuburnya tentang Iman, Islam, siapa Rabbnya dan siapa Nabinya. Munkar dan Nakir akan mendatanginya sebagaimana yang Dia kehendaki dan inginkan. Kita wajib beriman dan membenarkan hal ini.
    • Beriman kepada syafa`at Nabi Shalallahu ’alaihi wasallam dan kepada suatu kaum yang akan keluar dari neraka setelah mereka terbakar dan menjadi arang, kemudian mereka akan diperintahkan menuju sungai di depan pintu syurga (sebagaimana diberita kan dalam atsar) sebagaimana dan seperti apa yang Dia kehendaki, kita wajib beriman dan membenarkan hal ini.
    • Beriman bahwa Al-Masih Ad-Dajjal akan keluar, tertulis diantara kedua matanya (Kafir/bahasa Arab) dan beriman dengan hadits-hadits yang datang tentang masalah ini beriman bahwa ini akan terjadi.
    • Beriman bahwa Isa bin Maryam akan turun dan membunuh dajjal di pintu Ludh.

 

    • Iman adalah ucapan dan amalan, bertambah dan berkurang, sebagaimana telah diberitakan dalam hadits :(yang artinya) “Orang mu’min yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik ahlaqnya”, dalam hadits lain:

“Barangsiapa meninggalkan shalat sungguh ia telah kafir”,”Tidak ada amalan yang kalau ditinggalkan orang menjadi kafir kecuali shalat”. Maka Barangsiapa meninggalkan shalat ia menjadi kafir dan Allah telah menghalalkan membunuhnya.

    • Sebaik-baik umat setelah Nabi Shalallahu ’alaihi wasallamnya adalah Abu bakar As Shidiq, kemudian Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, kita mengutamakan tiga shahabat ini sebagaimana Rasulullah Salallahu’alaihi wasallam mengutamakan mereka, para shahabat tidak berselisih dalam masalah ini, kemudian setelah tiga orang ini orang yang paling utama adalah ashabus syura (Ali bin Abi Thalib, Zubair, Abdur Rahman bin Auf, Sa’ad dan [Thalhah]*) seluruhnya berhak untuk menjadi khalifah dan imam. Dalam hal ini kita berpegang dengan hadits Ibnu Umar : (yang artinya) “Kami menganggap ketika Rasulullah Shalallahu ’alaihi wasallam masih hidup dan para sahabatnya masih banyak yang hidup, bahwa sahabat yang terbaik adalah : Abu Bakar, Umar dan Utsman kemudian kita diam (tidak menentukan orang keempat)”, kemudian setelah ashabus syura orang yang paling utama adalah orang yang ikut perang badar dari kalangan Muhajirin kemudian dari kalangan Anshar sesuai dengan urutan hijrah mereka, yang lebih dulu hijrah lebih utama dari yang belakangan, kemudian manusia yang paling utama setelah para sahabat adalah generasi yang beliau diutus pada mereka dan sahabat yang pernah bersahabat dengan beliau selama satu tahun, satu bulan, satu hari atau satu jam, siapa yang pernah melihat Rasulullah Shalallahu ’alaihi wasallam maka dia termasuk sahabat Rasulullah Shalallahu ’alaihi wasallam. Dia mempunyai keutamaan sesuai dengan lamanya dia bersahabat dengan Rasulullah Shalallahu ’alaihi wasallam, dia lebih dulu masuk Islam bersama Rasulullah Salallahu’alaihi wasallam, mendengar dan melihatnya (merupakan satu keutamaan baginya – pent). Orang yang paling rendah persahabatannya dengan Rasulullah Shalallahu ’alaihi wasallam tetap lebih utama dari pada generasi yang tidak pernah melihatnya, walaupun mereka bertemu dengan Allah dengan membawa seluruh amalannya. Mereka yang telah bersahabat dengan Nabi Shalallahu ’alaihi wasallam telah melihat dan mendengar beliau lebih utama –karena persahabatan mereka – dari kalangan Tabi’in walaupun mereka (Tabi’in) telah beramal dengan semua amal kebaikan.
    • Mendengar dan taat pada Imam dan Amirul mukminin yang baik ataupun yang fajir.dan juga wajib taat kepada orang yang menjabat kekhalifahan karena manusia telah berkumpul (ba’iat) dan ridha kepadanya, dan juga taat kepada orang yang memberontak mereka dengan pedang hingga menjadi khalifah dan dinamakan amirul mukminin.
    • Jihad terus berlangsung bersama Imam hingga hari kiamat dengan imam yang baik ataupun fajir tidak boleh ditinggalkan.
    • Pembagian harta fa’i (harta rampasan yang diambil tanpa melalui peperangan terlebih dahulu) dan pelaksanaan hukum-hukum had dilakukan oleh imam, dan hal ini terus berlangsung tidak boleh seorangpun mencela mereka dan tidak boleh pula membantah mereka.
    • Memberikan zakat (shadaqah) kepada mereka dibolehkan dan teranggap, Barangsiapa yang yang memberikannya kepada mereka maka sudah cukup baginya, Imamnya baik ataupun fajir.
    • Shalat Jum’at di belakang Imam dan di belakang orang yang dipilih oleh Imam sudah cukup dan sempurna dan dilakukan dengan dua rakaat, Barangsiapa yang mengulang shalatnya maka dia adalah seorang ahlul bidah yang meninggalkan atsar dan menyelisihi Sunnah. Dia tidak mendapatkan keutamaan shalat Jum’at sedikitpun jika menganggap tidak boleh shalat dibelakang Imam yang baik ataupun yang dhalim, Sunnah mengajarkan untuk shalat bersama mereka dua rakaat, kita beragama dan meyakini ( 2/4 ) bahwa itu sudah sempurna jangan sampai ada suatu perasaan apapun dalam dadamu tentang masalah tersebut.
    • Barangsiapa yang memberontak kepada Imam kaum muslimin setelah mereka berkumpul dan mengakuinya sebagai khalifah, dengan cara apapun dengan ridha maupun dengan paksa, maka pemberontak itu telah memecahkan persatuan kaum muslimin dan menyelisihi atsar dari Rasulullah Shalallahu ’alaihi wasallam, kalau dia mati dalam keadaan memberontak maka dia mati dalam keadaan mati jahiliyah.
    • Tidak dihalalkan atas seorangpun memerangi sulthan atau memberontaknya, Barangsiapa yang melakukannya maka dia adalah mubtadi’ (Ahlul bid’ah), sudah tidak diatas Sunnah dan jalan yang lurus.
    • Memerangi para pencuri dan khawarij diperbolehkan jika mereka mengancam jiwa dan harta seseorang. Jika demikian seseorang dibolehkan untuk memeranginya dalam rangka membela jiwa dan hartanya sebatas kemampuannya, tapi dia tidak boleh mencari atau mengejar mereka jika mereka memisahkan diri atau meninggalkannya, tidak boleh seorangpun mengejarnya kecuali Imam atau pemerintah muslimin. Tapi yang diperbolehkan itu adalah membela dirinya ditempat kejadian, dan tidak berniat untuk membunuh seorangpun, kalau pencuri (khawarij ) tersebut mati ditangannya ketika ia membela diri maka Allah akan menjauhkan orang yang terbunuh , dan kalau dia (yang bela diri ) yang terbunuh dalam keadaan membela diri dan hartanya, aku mengharapkan dia mati syahid sebagaimana dalam hadits-hadits, seluruh atsar dalam masalah ini (1/5) hanya menyuruh untuk memeranginya dan tidak memerintahkan untuk membunuh atau mengintainya, tidak diperbolehkan  membunuhnya kalau dia tersungkur atau terluka, kalau menjadikannya sebagai tawanan juga tidak boleh dibunuh, dan jangan dihukum had olehnya sendiri, akan tetapi hendaknya urusan tersebut diserahkan kepada orang yang telah Allah tunjuk sebagai Imam (qadhi) untuk menghukumnya.
    • Kami tidak mempersaksikan (memastikan ) seorang ahlu qiblah dengan amalannya akan masuk syurga atau neraka. Kami mengharapkan orang yang shalih (untuk masuk syurga-pent.), dan kami juga mengkhawatirkan serta menakutkan orang yang berbuat jelek dan dosa (untuk masuk neraka,pent) dan kami mengaharapkan rahmat Allah untuknya.
    • Barangsiapa yang bertemu dengan Allah dengan membawa dosa yang bisa memasukkannya dalam neraka- tapi dia taubat tidak terus menerus melakukan dosanya- maka sesunguhnya Allah menerima taubat hambanya serta mema’afkan kejelekannya.
    • Barangsiapa yang bertemu dengan Allah dalam keadaan telah ditegakkan atasnya hukum had didunia maka itulah penghapus dosa baginya, sebagaimana telah ada khabar dari Rasulullah Shalallahu ’alaihi wasallam.
    • Barangsiapa yang bertemu dengan Allah dalam keadaan terus menerus melakukan dosa, dan tidak bertaubat dari dosa-dosa yang mengharuskan ia dihukum oleh Allah, maka urusannya dikembalikan kepada Allah, kalau Allah menghendaki Dia akan mengadzab orang tersebut dan jika tidak Allah akan mengampuninya.
    • Barangsiapa yang bertemu dengan Allah – dalam keadaan kafir – Allah akan mengadzabnya dan tidak ada ampunan baginya.
    • Rajam itu adalah haq (wajib) atas orang yang zina dan telah menikah, jika dia mengaku atau telah ada bukti yang kuat, Rasulullah Shalallahu ’alaihi wasallam telah merajam, demikian pula khulafaur rasyidin.
    • Barangsiapa yang menghina seorang saja dari shahabat Rasulullah Salallahu ’alaihiwasallam atau membencinya karena dosa, atau menyebutkan kejelekan-kejelekannya maka dia adalah ahlul bid’ah sampai dia bertarahum (mendoakan semoga Allah merahmati) kepada mereka semua dan hatinyapun selamat dari perasaan jelek kepada mereka.
    • Nifak adalah kufur, kufur kepada Allah dan menyembah selainnya. Serta menampakkan Islam dalam dhahirnya, seperti orang-orang munafik pada zaman Rasululah.
    • “Tiga perkara yang barangsiapa tiga perkara ini ada padanya berarti dia munafik “ dengan keras (mengancam), kita riwayatkan sebagaimana datangnya tidak kita kias-kiaskan.   Dan sabdanya: (yang artinya) “Janganlah kalian kembali menjadi kafir jika aku telah wafat, sebagian kalian membunuh sebagian yang lainnya”
      dan seperti : “Jika dua orang muslim berkelahi dengan membawa pedang mereka maka yang membunuh dan yang dibunuh masuk neraka”,

dan seperti : “Mencerca muslim adalah fasiq dan membunuhnya adalah suatu kekufuran”, dan seperti:

“Barangsiapa yang mengatakan kepada saudaranya “Ya kafir” maka sifat tersebut akan kembali (mengenai) salah seorang diantara keduanya”.

    • Seperti : “Kufur pada Allah melepaskan nasab walaupun sedikit”. Dan seperti hadits-hadits ini yang shahih dan dihapal, kita harus menerimanya walau tidak tahu tafsirnya (1/6) kita tidak mempersalahkan dan tidak pula memperdebatkannya, dan tidak kita tafsirkan kecuali dengan hadits yang lebih shahih dari itu.
    • Sorga dan neraka sudah diciptakan (sudah ada) sebagaimana dalam hadits Rasulullah Shalallahu ’alaihi wasallam bersabda :

“Aku masuk ke syorga akupun melihat istana disana, aku juga melihat alkautsar” dan “Aku lihat ke sorga akupun bisa melihat bahwa kebanyakan penduduk syorga adalah ini, dan aku lihat neraka dan aku lihat kebanyakan penghuninya adalah ini (Wanita-pent), Barangsiapa yang menyangka keduanya belum ada saat ini berarti dia telah mendustakan Al Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah Shalallahu ’alaihi wasallam dan aku tidak mengira (menganggap) orang ini beriman atas adanya syorga dan neraka.

Barangsiapa yang mati dari ahlul kiblat (muslim) dalam keadaan muwahid (bertauhid), dishalati jenazahnya dan dimintakan ampun untuknya, jangan sampai tidak dimintakan ampun dan jangan pula jenazahnya dibiarkan (tidak dishalati) hanya karena disebabkan melakukan dosa – baik yang dosa kecil ataupun besar- dan urusannya diserahkan kepada Allah Ta’ala.

Akhir risalah:

Walhamdulillahi wahdah, wa shalawatuhu ‘ala Muhammad wa alihi wasallam Taslima.

Telah mendengar seluruh risalah ini dari lafadz Syaikh Imam Abu Abdillah Yahya bin Abi Ali Hasan bin Ahmad Al Banna dengan riwayat dari dua orang tuanya Syaikh Imam Muhadzab abu Mudzfar Abdul Malik bin Ali bin Muhammad Alhamdani dia berkata : “Dengan ini aku beragama kepada Allah”, telah mendengar penulis pemilik nuskhah dan penulisnya Abdurrahman bin hibatullah bin Mi’rad alharani, ini terjadi diakhir bulan rabiul awal 529 H.

Alhamdulillah : Telah mendengarnya dari lafadzku anakku yang bernama Abu Bakar Abdullah dan saudaranya Badarudin Hasan dan ibunya Balbal bintu Abdullah dan telah mendengar pula sebagian risalah ini Abdul Hadi, Telah shahih (benar) hal ini terjadi pada hari senin 17 jumadil awal Th. 897 H, aku bolehkan bagi mereka untuk meriwayatkannya dariku dan juga seluruh yang aku riwayatkan dengan syaratnya. Yang menulis Yusuf Abdul Hadi.

Telah berkata penulisnya kepada dirinya sendiri Muhammad Nashiruddin Al albani:

Aku selesai menulisnya dari makhtutath khatiyah di Dhahiriyah Damaskus (Majmu 68 10-15). Sesaat sebelum dhuhur Rabu 6 Sya’ban 1373H.

Telah meletakkan catatan kaki ini bagian tahqiq majalah Al Mujahid

Jazakumullahukhairo, mudah-mudahan Allah menolong mereka dalam melawan musuh mereka dan musuhnya kaum muslmin.

Darul manar berharap orang yang membaca risalah ini untuk mendoakan mereka, shalallahuwasallama ‘ala Nabiyina Muhammad Shalallahu ’alaihi wasallam wa ‘ala alihi wa ashabihi ajmain.

(Dikutip dari buku terjemah kitab Ushulus Sunnah, karya Imam Ahmad bin Hanbal, Penerbit Darul Manar cet. 1 Th. 1411H. Penerjemah : Al Ustadz Abdur Rahman Mubarak Ata, Editor : Team Al Atsari, Cetakan pertama, September 1999, Penerbit : Pustaka Al Mubarak. Alamat : Kp. Cikalagan Rt 02/10 Cileungsi (Depan pasar Cileungsi) Bogor-Jabar 16820 Telp. (021) 823 5220)

  1. Prestasi atau Karya yang dicapai oleh Imam Ahmad bin Hanbal

Ahli hadits sekaligus juga Ahli Fiqih

Ibnu ‘Aqil berkata, “Saya pernah mendengar hal yang sangat aneh dari orang-orang bodoh yang mengatakan, “Ahmad bukan ahli fiqih, tetapi hanya ahli hadits saja. Ini adalah puncaknya kebodohan, karena Imam Ahmad memiliki pendapat-pendapat yang didasarkan pada hadits yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia, bahkan beliau lebih unggul dari seniornya”.

Bahkan Imam Adz-Dzahabi berkata, “Demi Allah, beliau dalam fiqih sampai derajat Laits, Malik dan Asy-Syafi’i serta Abu Yusuf. Dalam zuhud dan wara’ beliau menyamai Fudhail dan Ibrahim bin Adham, dalam hafalan beliau setara dengan Syu’bah, Yahya Al Qaththan dan Ibnul Madini. Tetapi orang bodoh tidak mengetahui kadar dirinya, bagaimana mungkin dia mengetahui kadar orang lain!!

Karya Tulis

Beliau menulis kitab al-Musnad al-Kabir yang termasuk sebesar-besarnya kitab “Musnad” dan sebaik baik karangan beliau dan sebaik baik penelitian Hadits. Ia tidak memasukkan dalam kitabnya selain yang dibutuhkan sebagai hujjah. Kitab Musnad ini berisi lebih dari 25.000 hadits.

Diantara karya Imam Ahmad adalah ensiklopedia hadits atau Musnad, disusun oleh anaknya dari ceramah (kajian-kajian) – kumpulan lebih dari 40 ribu hadits juga Kitab ash-Salat dan Kitab as-Sunnah.

Karya-Karya Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah

  1. Kitab Al Musnad, karya yang paling menakjubkan karena kitab ini memuat lebih dari dua puluh tujuh ribu hadits.
  2. Kitab at-Tafsir, namun Adz-Dzahabi mengatakan, “Kitab ini hilang”.
  3. Kitab an-Nasikh wa al-Mansukh
  4. Kitab at-Tarikh
  5. Kitab Hadits Syu’bah
  6. Kitab al-Muqaddam wa al-Mu’akkhar fi al-Qur`an
  7. Kitab Jawabah al-Qur`an
  8. Kitab al-Manasik al-Kabir
  9. Kitab al-Manasik as-Saghir

Menurut Imam Nadim, kitab berikut ini juga merupakan tulisan Imam Ahmad bin Hanbal

  1. Kitab al-‘Ilal
  2. Kitab al-Manasik
  3. Kitab az-Zuhd
  4. Kitab al-Iman
  5. Kitab al-Masa’il
  6. Kitab al-Asyribah
  7. Kitab al-Fadha’il
  8. Kitab Tha’ah ar-Rasul
  9. Kitab al-Fara’idh
  10. Kitab ar-Radd ala al-Jahmiyyah
  1. Sistem penulisan kitab Ushul Fiqih “’Ilaamul Muwaqi’iin”

Format susunan penulisan kitan ini ditinjau oleh penulis terlihat dari pembahasan yang umum menuju khusus. Kitab yang memiliki jilid 4 Juz ini, memiki halaman sekitar 913 halaman kurang lebih, kitab tersebut adalah kitab yang sudah diterjemahkan oleh Asep Saefullah FM, dan Kamaluddin Sa’diyatulharamain.

Sedangkan kitab yang belum diterjemahkan yang tulisannya masih original berbahas arab terdapat 1575 Halaman dala 4 Juz. Namun belum disertai Muqodimah dan daftar Isi.

  1. Pembahasan seputar kitab Ushul Fiqih “’Ilaamul Muwaqi’iin”

Juz 1 :

  • Pendapat para imam seputar alat dan syarat fatwa, serta orang yang boleh memberikan fatwa.
  • Riwayat dari orang-orang terpercaya tentang penolakan ra’yu (pendapat).
  • Qiyas para sahabat.
  • Ra’yu (pendapat) yang terpuji dan macam-macamnya.
  • Surat umar bin khattab dan penjelasannya.
  • Sifat dan persyaratan hakim.
  • Perdamaian di antara kaum muslimin .
  • Hak allah dan hak manusia.
  • Seorang hakim dapat menangguhkan putusan hukum sesuai dengan kebutuhan.
  • Dusta adalah salah satu dosa besar.
  • Menolak kesaksian orang yang didera karena menuduh wanita-wanita baik berbuat zina.
  • Pemutcaraan seputar qiyas (analogi)
  • Macam-macam qiyas
  • Sumber pangkal kejahatan adalah bid’ah dan mengikuti hawa nafsu.
  • Perumpamaan-perumpamaan dalam al-qur’an dan hikmahnya.
  • Pengaruh kalimat tauhid
  • Dasar hukum syara’ ada penyamaan hukum antara dua hal yang serupa
  • ‘illat (alasan) hukum yang terdapat dalam al-qur’an
  • ‘illat hukum yang terdapat dalam hadits
  • Hadits mu’adz bin jabal ketika diutus rasululloh saw ke yaman
  • Ijtihad dan qiyas (analogi) yang dilakukan oleh para sahabat nabi saw.
  • Ijma’ (kesepakatan) para ahli fikih dalam masalah qiyas
  • Beberapa kekeliruan ahlul alfadz (tektualis) dan ahlul ma’ani (kontekstualis).
  • Perbedaan antara perumpamaan yang berasal dari allah dan rasul-nyad dengan qiyas.
  • Qivas tidak menjadi hujjah (argumen) pada zaman rasululloh.
  • Contoh pertentangan  para pengguna qiyas
  • Contoh penggabungan hal-hal yang berbeda
  • Perhatian atas sebagian syarat tanpa syarat yang lain
  • Ketetapan hukum Nabi Daud dan Nabi Sulaiman
  • Apakah tindakan hukum yang dikenakan kepada seorang penjahat harus sania dengan tindakan yang dia perbuat kepada orang yang ia jahati.
  • Perlunya analisa yang mendalam dalam menetapkan kekuatan dalil yang dikemukakan dua kelompok.
  • Perbedaan pendapat seputar nash: Apakah nash itu mencakup hukum segala peristiwa
  • Fanatisme masing.masing kelompok mengklaim dirinya berpegang pada kebenaran.
  • Istishab dan Pembagiannya
  1. Istishab kepada Kemurnian Aslinya
  2. Istishab Al-Wasf untuk menetapkan suatu hukum
  3. Istishab hukum Ijma dalam Masalah yang menjadi perdebatan
  • Dalil yang menunjukan kehujahan Istishab .
  • Bantahan mayoritas ulama terhadap jawaban orang-orang yang melarang.
  • Kesalahan orang-orang yang berpegang teguh pada Qiyas.
  • Keadilan: asas segala perjanjian.

 

Juz 2:

  • Ijarah sesuai dengan qiyas
  • Qiyas yang rusak adalah sumber kejahatan
  • Ijarah wanita untuk menyusui
  • Beberapa keraguan orang yang meniadakan Qiyas
  • Mandi wajib karena janabah
  • Perbedaan bayi laki-laki dan bayi perempuan
  • Perbedaan antara shalat yang empat raka’at dengan shalait yang lainnya.
  • Perbedaan antarap pencuri dan perampok.
  • Celaan terhadap emosi dan sabar dalam mencari Kebenaran

Pertama     : Celaan terhadap Emosi

Kedua       : Sabar dalam mencari kebenaran

  • Setiap individu mempunyai ibadah bagi allah sesuai tingkatannya.
  • Orang yang berlaku culas dan akibatnya.
  • Perbuatan hamba allah ada 4 (empat) macam dan perbuatan yang diterima hanya satu.
  • Pahala bagi orang yang tulus( ikhlas).
  • Seputar haramnya memberikan fatwa dalam masalah agama allah tanpa didasari ilmu pengetahuan dan ijma’ mengenai hal tersebut
  • Cara yang ditempuh salafush shalih (ulama Klasik yang saleh).
  • Manfa’at mengulang-ulang pertanyaan.
  • Uraian seputar taqlid.
  • Bencana yang ditimbulkan akibat kekeliruan orang’alim.
  • Larangan empat imam madzhab untuk bertaqlid kepada mereka
  • Celaan terhadap orang.orang yang melakukan Perpecahan
  • Allah mencela orang-orang yang berpaling dari Hukumnya.
  • Umar tidak pernah bertaqlid pada Abu Bakar.
  • Taat kepada ulul amri.
  • Siapakah orang yang diikuti para imam?
  • Apakah para sahabat bertaqlid kepada umar?
  • Perbedaan antara imam mujahid dan pendukung Taqlid
  • Perbedaan yang besar antara muqallid dan Ma’mum.
  • Taqlid tidak diperlukan dalam syari’at.
  • Munculnya dua riwayat dari salah seorangi imam seperti dua pendapat dari dua orang imam.
  • Contoh dari mereka yang membatalkan sunnah karena munculnya al-qur’an
  • Tiga posisi sunnah terhadap al-qur’an
  • Macam-macam penjelasan Rasul
  • Macam-macam bentuk sunnah dan contoh masing-masing.
  • Transfer perkataan dan cara al-bukhari menyusun kitab “shahih”-nya.
  1. Transfer Perbuatan.
  2. Transfer Ketetapan.
  3. Transfer Perbuatan yang ditinggalkan
  4. Transfer Aset
  5. Transfer Pekerjaan yang Berlangsung terus.
  • Perbuatan dengan cara ijtihad
  • Penjelasan mengenai shalat wustha
  1. Bacaan yang diucapkan Imam ketika Bankit dari ruku
  2. Penunjukan Dengan Jari Bagi orang yang duduk dengan Tasyahud

Juz 3 :

  • Perubahan dan Perbedaan fatwa berdasarkan perubahan waktu, tempat, kondisi dan niat serta sesuatu yang terjadi kemudian.
  • Mengingkari hal-hal yang munkar dan syarat-syaratnya.
  • Gugurnya had (hukuman) dari orang-orang yang bertaubat.
  • Zakat fitrah tidak pasti dalam beberapa macam saja.
  • Arah perubahan fatwa mengikuti perubanah situasi dan kondisi.
  • Bagian yang dijadikan patokan syara’ adalah niat Seorang mukallaf bukan bentuknya.
  • Bantahan terhadap suatu pernyataan bahwa ketentuan hukum berlaku atas dasar bentuk lahirnya.
  • Penggunaan beberapa lafal untuk mengetahui apa yang ada dalam hati seseorang.
  • Beberapa perbuatan mukallaf yang diampuni dan tidak diazab oleh allah.
  • Pembagian Lafadz.
  • Niat sebagai ruh dan Intisari amal perbuatan.
  • Perumpamaan orang yang berpegang kepada sisi lahiriyah.
  • Allah swt tidak menurunkan suatu keterangan untuk menyembah nama-nama yang dibuat-buat.
  • Ketentuan hukum yang dibawa rasulullah saw merupakan ketentuan syari’at yang paling sempurna
  • Syarat yang mendahului dan menyertai
  • Ketentuan hukum yang berlaku bagi tuiuan, menjadi hukum bagi penyebabnya.
  • Pembolehan Hiyal bertentangan dengan prinsip Sadd Al-Dzarii’ah.
  • Kebanyakan siasat itu bertentangan dengan landasan pijakan para imam mujtahid.
  • Seputar kisah Nabi Ayyub as.
  • Jawaban atas pendapat yang mengatakan :”Siasat itu adalah mengelak dalam bentuk perbuatan”.
  • Macam-macam siasat.
  • Syaria’I tidak dibentuk berdasarkan kejadian yang langka.
  • Landasan pijakan para imam-imam Mujtahid
  • Keutamaan para Imam Madzhab.
  • Bujukan yang bersumber dari syetan manusia
  • Siasat yang diperbolehkan untuk mencapai kebenaran dengan cara yang dibolehkan walaupun tidak disyari’atkan.

 

Juz 4:

  • Dibolehkan mengambil fatwa yang bersumber dari golongan salaf.
  • Berbagai Macam pertanyaan.
  • Hendaknya member fatwa member pembukaan untuk masuk pada hukum, apalagi jika hukum itu termasuk kategori asing.
  • Pasal:hendaknya pemberi fatwa selalu minta petunjuk kepada Allah dalam mencapai Kebenaran fatwanya.
  • Kewajiban bagi perawi (yang meriwayatkan hadits) pemberi fatwa. Pemberi keputusan (hakim) dan pemberi saksi.
  • Beberapa sikap yang harus dimiliki orang yang telah menetapkan dirinya untuk berfatwa.
  1. Niat dan kedudukannya
  2. Ilmu, sikap santun, Tenang dan Tentram
  3. Hakekat ketengan
  4. Ketenangan Khusus
  • Pasal: ketenangan dalam melaksanakan ibadah.
  1. Sebab-sebkaeb ketenangan
  2. Tekum mengkaji Ilmu
  3. Memiliki Kecukupan.
  4. Mengetahui Sifat Manusia
  • Beberapa kalimat yang kuingat dari imam ahmad Tentang sifat-sifat seorang pemberi fatwa.
  1. Dalil fatwa bersumber dari pendapat orang lain
  2. Boleh berfatwa kepada orang yang kesaksiannya tidak diterima.
  3. Tidak boleh Berfatwa dengan kehendak dan selera diri.
  • Empat macam pemberi fatwa.
  • Kedudukan setiap macam pemberi fatwa.
  • Fatwa seorang hakim dan hukum dari fatwa itu.
  • Beberapa keadaan pemberi fatwa yang saat itu tidak boleh baginya untuk berfatwa.
  • Hukum mengambil upah dari fatwa yang dikeluarkan.
  • Apa yang dilakukan seorang pemberi fatwa jika Ia mengeluarkan fatwa pada suatu kejadian kemudian kejadian itu terulang lagi.
  • Seluruh Imam berpendapat dengan hadits dan jika pendapat itu benar maka itulah madzhabnya.
  • Apa yang dilakukan pemberi fatwa dalam memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang
  • mengandung beberapa pengertian.
  • Pemberi fatwa tidak boleh menjadikan tujuan orang yang bertanya enjadi pengendali fatwanya.
  • Apa yang harus dilakukan jika dua orang pembawa fatwa berselisih.
  • Fatwa-fatwar Rasulullahs aw:

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah Akidah

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah tharah

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah Shalat

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah Kematian

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah Zakat

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah Puasa

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah Hajin

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah Keutamaan Al-Qur’an dan Dzikir

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah Jual Beli

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah Keutamaan sebagian Amal.

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah Hadiah dan Sedekah.

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah Warisan

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah Memerdekakan budak

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah Perkawinan

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah Penyusuan

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah Perceraian

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah khulu’

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah Dhihar dan li’an

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah dalam masa Iddah

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah Tetapnya Nasab

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah Berkabung terhadap orang mati.

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah Nafkah dan Pakaian wanita yang beriddah

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah Pengasuhan

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah Pembunuhan.

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah Sumpah Pembunuhan

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah hukuman Zina

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah Makanan

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah Minuman

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah Sumpah dan Nadzar

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah jihad

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah Hewan Sembelihan dan Hewan Buruan.

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah Pengobatan

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah Firasat baik dan Firasat buruk

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah Berbagai masalah yang pertama.

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah yang kedua

-       Fatwa-fatwa Rasulullah saw dalam Masalah yang ketiga.

-       Beberapa dosa besar.

-       Kembali pada Fatwa-fatwa Rasululloh saw.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: